Ragu Apakah Wudhunya Batal Atau Tidak?

Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwasanya jika ada keraguan setelah wudhu, misalnya apakah kentut atau tidak, makan tinggalkan yang ragu (yakni tidak kentut). Dalilnya adalah:

إذا وجد أحدكم في بطنه شيئا ، فأشكل عليه أخرج منه شيء أم لا ، فلا يخرج من المسجد ، حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا

Jika salah seorang dari kalian menemukan sesuatu dalam perutnya, sesuatu yang keluar dari padanya  (kentut) atau tidak, janganlah keluar dari masjid, sampai kalian mendengar suara atau merasakan bau (HR. Muslim)
Maksud dari “jangan keluar dari masjid” adalah jangan berwudhu lagi.
Untuk lebih lengkapnya, marilah kita simak rekaman kajian pada:
– Hari : Kamis
– Tanggal : 27 Syawal 1433 / 13 September 2012
– Tempat : Masjid Mapolsek Delanggu
– Kitab : Al Mulakhosul Fiqhi karya Syaikh Sholih Al Fauzan hafizahullah | download
– Materi : Pembatal Wudhu dan Pembatal Wudhu yang dalam Perselisihan Pendapat
– Pemateri : Al Ustadz Abul Hasan ‘Aliy Cawas
Judul
Mainkan
Size (MB)
Unduh
Ragu Apakah Wudhunya Batal Atau Tidak?
5.1

Barakallahu fiikum

Pembatal Wudhu dan Pembatal Wudhu yang dalam Perselisihan Pendapat

Dalam kitabnya yang berjudul Al Mulakhosul Fiqhi, di Bab Penjelasan pembatal-pembatal wudhu, Asy Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhahullah juga menjelaskan hal yang termasuk pembatal wudhu, namun masih dalam perselisihan di kalangan para ulama ahli ilmu.
Ada beberapa hal yang beliau jelaskan:

  1. Memegang kemaluan secara langsung
    Yang rajih adalah membatalkan wudhu
  2. Menyentuh wanita (lawan jenis)
    Yang kuat adalah tidak membatalkan wudhu
  3. Memandikan Jenazah kaum muslimin
    Pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan wudhu
  4. Murtad, kemudian kembali masuk Islam
    Pendapat yang kuat tidak membatalkan wudhu
Untuk lebih lengkapnya, marilah kita simak rekaman kajian pada:
– Hari : Kamis
– Tanggal : 220 Syawal 1433 / 6 September 2012
– Tempat : Masjid Mapolsek Delanggu
– Kitab : Al Mulakhosul Fiqhi karya Syaikh Sholih Al Fauzan hafizahullah | download
– Materi : Pembatal Wudhu dan Pembatal Wudhu yang dalam Perselisihan Pendapat
– Pemateri : Al Ustadz Abul Hasan ‘Aliy Cawas
Judul
Mainkan
Size (MB)
Unduh
Pembatal Wudhu dan PembatalWudhu yg dalam Perselisihan Pendapat
4.8

Barakallahu fiikum

Menyempurnakan Wudhu

Seorang yang berwudhu harusnya menyempurnakan wudhunya, dalam mencuci atau mengusap harus benar-benar sempurna agar tidak ada yang terlewat. Menyempurnakan di sini tidaklah dimaksudkan dengan memperbanyak air, tapi disunnahkan dengan menggunakan air sehemat mungkin.
Beberapa mafsadat yang diakibatkan karena berlebih-lebihan menggunakan air dalam berwudhu diantaranya:
  1. Tergantung pada banyaknya penggunaan air yang menyebabkan tidak bersih dalam mencuci
  2. Terjatuh dalam ghuluw dalam peribadatan
  3. Menyebabkan was-was
Untuk lebih lengkapnya, mari kita simak rekaman kajian yang disampaikan pada:
Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya yang disampakain pada pembahasan kitab Al Mulakhosul Fiqhi :
– Hari : Kamis
– Tanggal : 19 Jumadits Tsani 1433 /  10 Mei 2012
– Tempat : Masjid Mapolsek Delanggu
– Pemateri : Al Ustadz Abul Hasan ‘Ali Cawas
Judul
Mainkan
Size (MB)
Unduh
Menyempurnakan Wudhu
5.0

Barakallahu fiikum

Penjelasan Shifat-Sifat Wudhu

Dalam bab penjelasan sifat-sifat wudhu di kitab Al Mulakhosul Fiqhi, Asy Syaikh Sholih Fauzan hafizhahullah menjelaskan tentang urutan tata cara wudhu sesuai sunnah rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sebagai berikut:
  1. Seseorang harus berniat sebelum wudhu
    Tujuan niat itu harus ada jelas untuk ibadah, untuk menyegarkan badan, atau untuk yang lain. Dan di dalam niat sendiri terkandung dua perkara, yakni : untuk ibadah, dan ikhlas karena Allah jalla wa ‘alaa.
  2. Mengucapkan “Bismillah” Baca lebih lanjut

6 Kewajiban Dalam Wudhu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

َا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٦)

Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh  perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Dalam kitabnya Al Mulakhosul Fiqhi, Asy Syaikh Sholih Fauzan Al Fauzan –hafizhahullah– menjelaskan 6 kewajiban di dalam berwudhu, yakni sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: