[Al Mulakhosul Fiqhi] Kewajiban – Kewajiban dalam Shalat

Dalam pertemuan ke-46 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai 8 kewajiban-kewajiban dalam shalat

Kewajiban ke-1: Seluruh Takbir selain Takbiratul Ihram

Takbir pada peralihan gerakan disebut takbir intiqol. Pendapat yang rajih, takbir diucapkan seiring dengan gerakan perpindahan.

Kewajiban ke-2: At Tasmi’ bagi Imam dan Munfarid

At Tasmi’ yaitu membaca sami’allahu liman hamidah, ketika i’tidal.

Kewajiban ke-3: Tahmid bagi Imam, Ma’mum dan Munfarid

Kewajiban tahmid yakni membaca rabbana walakal hamdu, setelah tasmi’. Kewajiban ini berlaku untuk imam, makmum, maupun munfarid.

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Rukun Sholat: (12) Bersholawat Atas Nabi di Tasyahud Akhir; (13) Urut dalam Melaksanakan Rukun; (14) Salam

Dalam pertemuan ke-45 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai rukun sholat yang ke-12 sampai dengan yang terakhir, yakni:

Rukun ke-12: Bersholawat atas Nabi di Tasyahud Akhir

Yang menjadi rukun adalah ucapan sholawat “Allahumma sholli ‘alaa muhammad“, sedangkan bacaan yang lebih lengkap merupakan sunnah.

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Rukun Sholat (8) Duduk Di Antara Dua Sujud; (9) Thuma’ninah; (10-11) Tasyahud Akhir dan Duduknya

Dalam pertemuan ke-44 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai rukun sholat yang ke-8 sampai dengan ke 11, yakni:

Rukun ke-8: Duduk di Antara Dua Sujud

Ada dua kaifiyah duduk di antara dua sujud:

  1. Iftirasy, yakni menggunakan telapak kaki kiri sebagai bantalan dan telapak kaki kanan ditegakkan. Ini pendapat yang kuat.
  2. Iq’a’, yakni kedua telapak kaki ditegakkan dan duduk di atasnya. Yang ini pendapat yang kurang kuat.

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Rukun Sholat (4) Ruku’; (5-6) Bangkit dan I’tidal; (7) Sujud

Dalam pertemuan ke-43 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai rukun sholat yang ke-4 sampai dengan ke 7, yakni:

Rukun ke-4: Ruku’

Ruku’ secara bahasa diartikan sebagai membungkuknya punggung sebagai bentuk penghormatan. Ruku’nya Rasulullah adalah meratakan punggung sejajar dengan kepala hingga jika air dituangkan di atasnya tidak akan tumpah karena datarnya, serta jemari tangan merenggang di atas kedua lutut.
Jika ada orang yang mempunyai kelainan fisik atau tidak mampu rukuk dengan seperti itu, maka diusahakan agar punggung tetap rata.
Ruku’nya orang yang sholat sambil duduk adalam mengarahkan wajah ke depat lutut.

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Rukun Sholat (2) Takbiratul Ihram; (3) Membaca Al Fatihah

Dalam pertemuan ke-42 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai rukun sholat yang ke-2 dan ke-3, yakni:

Rukun ke-2: Takbiratul Ikhrom di awal sholat

Takbir yang menjadi rukun adalah yang pertama (di awal sholat). Takbiratul ikhram mebabkan seorang haram melakukan perkara-perkara di luar sholat. Lupa maupun dengan sengaja tidak takbiratul ikhram akan menyebabkan batal sholatnya dari awal hingga akhir.

Adapun kondisi tertentu, yakni:
1. Jika orang bisu; maka pendapat yang rajih adalah cukup membaca takbir di dalam hati jika tidak perlu dengan lisannya
2. Jika seorang yang tidak bisa bahasa Arab dan belum bisa mengucap takbir, maka boleh mengganti dengan bahasanya sendiri yang mempunyai makna sama.

Kalimat takbir dalam sholat tidak boleh diganti dengan kalimat yang lain, misalnya Allahu a’dhom.
Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Rukun Sholat : Berdiri

Di dalam menegakkan sholat terdiri dari 3 perkara, yaitu: Rukun, Kewajiban, dan Sunnah.
Rukun sholat diartikan sebagai sesuatu yang ada di dalam sholat yang jika ditinggalkan baik sengaja  maupun tidak sengaja (lupa) akan membatalkanya. Keadaan batal itu bisa seluruh sholat (misal: tidak takbiratul ihram) atau batal 1 rakaat (misal: tidak sujud).
Kewajiban sholat diartikan seebagai sesuatu yang jika ditinggalkan dengan sengaja akan meembatalkannya, namun jika karena lupa (tidak sengaja) maka tidak batal dan perlu ditambahkan sujud sahwi.
Adapun Sunnah sholat adalah amalan yang jika ditinggalkan dengan sengaja maupun tidak sengaja tidak membatalkan sholat tetapi bisa mengurangi kesempurnaan pahala shalat.
Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Udzur Tidak Menghadap Kiblat dan Cara Menentukan Kiblat

Orang-orang yang diberi udzur untuk tidak menghadap kiblat ketika shalat ada 4 ketentuan:

  1. Tidak mampu menghadap kiblat
    a. Karena diikat atau dipenjara sehingga tidak mampu menghadap kiblal
    b. Orang yang disalib
  2. Dalam situasi genting, seperti peperangan (yang genting), lari dari banjir atau api, atau lari dari musuh
  3. Orang yang sakit dan tidak mampu menghadap kiblat, serta tidak ada yang membantunya
  4. Orang yang sedang safar di atas kendaraan dan shalat yang dikerjakan adalah shalat sunnah (bukan fardhu)

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Tempat yang Makruh untuk Shalat dan Cara Menghadap Kiblat

Selain Kuburan, Kamar Mandi dan WC, tempat yang dilrang digunakan untuk shalat adalah kandang onta. Yang menyebabkan keharamannya bukan karena najis, tetapi karena di sana ditinggali banyak syaithan.

Tempat yang dimakruhkan untuk shalat ada 2:

  1. Tempat yang banyak gambar-gambar
  2. Tempat yang diperoleh dengan cara tidak haqq (rampasan, dll)

Adapun tata cara menghadap kiblat shalat ada 2:

  1. Jika berada dekat dengan ka’bah dan bisa melihatnya, maka harus tepat ke arah ka’bah.
  2. Jika dekat dengan ka’bah namun tak mampu melihatnya (misal: tertutup bangunan) maka berusaha untuk menghadap tepat kepadanya.
  3. Jika sangat jauh dari ka’bah (misal berada di negara Indonesia) maka kewajibannya adalah mengarah ke mata angin di mana ka’bah berada.

Untuk lebih lengkapnya, mari kita simak rekaman kajian pada:

– Hari : Kamis
– Tanggal : 21 Dzulqa’dah 1434 / 26 September 2013
– Tempat : Masjid Mapolsek Delanggu, Klaten
– Kitab : Al Mulakhosul Fiqhi karya Syaikh Sholih Al Fauzan hafizahullah | download
– Materi : Tempat yang Makruh untuk Shalat dan Cara Menghadap Kiblat
– Pemateri : Al Ustadz Abul Hasan ‘Aliy Cawas
Judul
Mainkan
Size (MB)
Unduh
Tempat yang Makruh untuk Shalat dan Cara Menghadap Kiblati
5.54

Barakallahu fiikum

[Al Mulakhosul Fiqhi] Larangan Sholat di Kuburan, WC dan Kamar Mandi

Ada 3 tempat yang dilarang dijadikan tempat untuk shalat:

  1. Kuburan
    Tidak boleh dilakukan sholat apapun di kuburan, kecuali shalat jenazah (dengan perincian).
  2. WC tempat BAB atau BAK
  3. Kamar Mandi

Untuk lebih lengkapnya, mari kita simak rekaman kajian pada:

– Hari : Kamis
– Tanggal : 7 Dzulqa’dah 1434 / 12 September 2013
– Tempat : Masjid Mapolsek Delanggu, Klaten
– Kitab : Al Mulakhosul Fiqhi karya Syaikh Sholih Al Fauzan hafizahullah | download
– Materi : Larangan Shalat di Kuburan, WC dan Kamar mandi
– Pemateri : Al Ustadz Abul Hasan ‘Aliy Cawas
Judul
Mainkan
Size (MB)
Unduh
Larangan Sholat di Kuburan, WC dan Kamar Mandi
5.5

Barakallahu fiikum

[Download] Kumpulan Khutbah Idul Fithri 1434

Berikut ini adalah kumpulan rekaman khutbah Idul Fithri oleh asatidzah pada tahun 1434.
No
Judul
Khatib
Play
Unduh
1
Berlomba Meraih Surga Kebahagiaan Hakiki Al Ustadz Asykari
2
Istiqomah Setelah Ramadhan Al Ustadz Ayub Abu Ayub
3
Kewajiban dan Keutamaan Menundukkan Hawa Nafsu Al Ustadz Muhammad As Sewed
4
Meemetik Hikmah Ibadah di Bulan Ramadhan Al Ustadz ‘Abdullah Sya’rani
5
Menuju Kehidupan yang Berberkah Al Ustadz Dzulqornain M Sunusi
6
Meraih Kebahagiaan dengan Tauhid Al Ustadz Sofyan Ruray
7
Meraih Kehidupan yang Mulia Al Ustadz Mustamin
8
Urgensi Syukur Al Ustadz Ja’far Shalih

Sumber file: radio Syiar Tauhid

Barakallahu fiikum

%d blogger menyukai ini: