[Al Mulakhosul Fiqhi] Sunnah-Sunnah di dalam Shalat dalam Bentuk Ucapan

Selain rukun dan kewajiban, ada pula sunnah-sunnah dalam shalat yang bisa dikerjakan. Sunnah di dalam shalat terbagi menjadi 2, yakni dalam bentuk ucapan dan dalam bentuk perbuatan. Pada pertemuan ke-47 pembacaan kitab al Mulakhosul Fiqhi, dibacakan tentang sunnah dalam bentuk ucapan, dan Syaikh Shalih Fauzan menyebutkan sunnah dalam bentuk ucapan, di antaranya:

  1. Membaca do’a istiftah setelah takbiratul ihram
    Dengan adanya berbagai macam bacaan istiftah, maka afdhal jika berganti-ganti yang dibaca ketika shalat, namun dilarang menggabungkan dua atau lebih jenis bacaan dalam satu shalat.
  2. Ta’awudz
    Disunnahkan di setiap awal rakaat. Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Kewajiban – Kewajiban dalam Shalat

Dalam pertemuan ke-46 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai 8 kewajiban-kewajiban dalam shalat

Kewajiban ke-1: Seluruh Takbir selain Takbiratul Ihram

Takbir pada peralihan gerakan disebut takbir intiqol. Pendapat yang rajih, takbir diucapkan seiring dengan gerakan perpindahan.

Kewajiban ke-2: At Tasmi’ bagi Imam dan Munfarid

At Tasmi’ yaitu membaca sami’allahu liman hamidah, ketika i’tidal.

Kewajiban ke-3: Tahmid bagi Imam, Ma’mum dan Munfarid

Kewajiban tahmid yakni membaca rabbana walakal hamdu, setelah tasmi’. Kewajiban ini berlaku untuk imam, makmum, maupun munfarid.

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Rukun Sholat (4) Ruku’; (5-6) Bangkit dan I’tidal; (7) Sujud

Dalam pertemuan ke-43 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai rukun sholat yang ke-4 sampai dengan ke 7, yakni:

Rukun ke-4: Ruku’

Ruku’ secara bahasa diartikan sebagai membungkuknya punggung sebagai bentuk penghormatan. Ruku’nya Rasulullah adalah meratakan punggung sejajar dengan kepala hingga jika air dituangkan di atasnya tidak akan tumpah karena datarnya, serta jemari tangan merenggang di atas kedua lutut.
Jika ada orang yang mempunyai kelainan fisik atau tidak mampu rukuk dengan seperti itu, maka diusahakan agar punggung tetap rata.
Ruku’nya orang yang sholat sambil duduk adalam mengarahkan wajah ke depat lutut.

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Rukun Sholat (2) Takbiratul Ihram; (3) Membaca Al Fatihah

Dalam pertemuan ke-42 pembacaan kitab Al Mulakhosul Fiqhi, dijelaskan mengenai rukun sholat yang ke-2 dan ke-3, yakni:

Rukun ke-2: Takbiratul Ikhrom di awal sholat

Takbir yang menjadi rukun adalah yang pertama (di awal sholat). Takbiratul ikhram mebabkan seorang haram melakukan perkara-perkara di luar sholat. Lupa maupun dengan sengaja tidak takbiratul ikhram akan menyebabkan batal sholatnya dari awal hingga akhir.

Adapun kondisi tertentu, yakni:
1. Jika orang bisu; maka pendapat yang rajih adalah cukup membaca takbir di dalam hati jika tidak perlu dengan lisannya
2. Jika seorang yang tidak bisa bahasa Arab dan belum bisa mengucap takbir, maka boleh mengganti dengan bahasanya sendiri yang mempunyai makna sama.

Kalimat takbir dalam sholat tidak boleh diganti dengan kalimat yang lain, misalnya Allahu a’dhom.
Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Adab Menunggu Shalat di Masjid

Beberapa adab di saat menunggu ditegakkannya sholat di masjid adalah mekukan shalat sunnah, memperbanyak berdzikir, atau diam serta meenghindari banyak berbicara perkara dunia.
Waktu untuk berdiri ketika iqomah dikumandangkan adalah ketika muadzin mengucapkan “qodqomati sholah”.

Untuk lebih lengkapnya, mari kita simak rekaman kajian pada:

– Hari : Kamis
– Tanggal : 4 Muharram 1435 / 7 November 2013
– Tempat : Masjid Mapolsek Delanggu, Klaten
– Kitab : Al Mulakhosul Fiqhi karya Syaikh Sholih Al Fauzan hafizahullah | download
– Materi : Adab Menunggu Shalat di Masjid
– Pemateri : Al Ustadz Abul Hasan ‘Aliy Cawas
Judul
Mainkan
Size (MB)
Unduh
Adab Menunggu Shalat di Masjid
6.39

Barakallahu fiikum

[Al Mulakhosul Fiqhi] Udzur Tidak Menghadap Kiblat dan Cara Menentukan Kiblat

Orang-orang yang diberi udzur untuk tidak menghadap kiblat ketika shalat ada 4 ketentuan:

  1. Tidak mampu menghadap kiblat
    a. Karena diikat atau dipenjara sehingga tidak mampu menghadap kiblal
    b. Orang yang disalib
  2. Dalam situasi genting, seperti peperangan (yang genting), lari dari banjir atau api, atau lari dari musuh
  3. Orang yang sakit dan tidak mampu menghadap kiblat, serta tidak ada yang membantunya
  4. Orang yang sedang safar di atas kendaraan dan shalat yang dikerjakan adalah shalat sunnah (bukan fardhu)

Baca lebih lanjut

[Al Mulakhosul Fiqhi] Tempat yang Makruh untuk Shalat dan Cara Menghadap Kiblat

Selain Kuburan, Kamar Mandi dan WC, tempat yang dilrang digunakan untuk shalat adalah kandang onta. Yang menyebabkan keharamannya bukan karena najis, tetapi karena di sana ditinggali banyak syaithan.

Tempat yang dimakruhkan untuk shalat ada 2:

  1. Tempat yang banyak gambar-gambar
  2. Tempat yang diperoleh dengan cara tidak haqq (rampasan, dll)

Adapun tata cara menghadap kiblat shalat ada 2:

  1. Jika berada dekat dengan ka’bah dan bisa melihatnya, maka harus tepat ke arah ka’bah.
  2. Jika dekat dengan ka’bah namun tak mampu melihatnya (misal: tertutup bangunan) maka berusaha untuk menghadap tepat kepadanya.
  3. Jika sangat jauh dari ka’bah (misal berada di negara Indonesia) maka kewajibannya adalah mengarah ke mata angin di mana ka’bah berada.

Untuk lebih lengkapnya, mari kita simak rekaman kajian pada:

– Hari : Kamis
– Tanggal : 21 Dzulqa’dah 1434 / 26 September 2013
– Tempat : Masjid Mapolsek Delanggu, Klaten
– Kitab : Al Mulakhosul Fiqhi karya Syaikh Sholih Al Fauzan hafizahullah | download
– Materi : Tempat yang Makruh untuk Shalat dan Cara Menghadap Kiblat
– Pemateri : Al Ustadz Abul Hasan ‘Aliy Cawas
Judul
Mainkan
Size (MB)
Unduh
Tempat yang Makruh untuk Shalat dan Cara Menghadap Kiblati
5.54

Barakallahu fiikum

%d blogger menyukai ini: